Tual, Lukisan Tuhan dari Indonesia Timur
- Tual bisa dibilang sebagai lukisan indah
Tuhan di Indonesia Timur. Kecantikan Tual bisa jadi pilihan untuk
traveler jelajahi libur panjang ini.
Awal mula perjalanan kami menjalajahi Indonesia. Tanjung Priuk, satu-satunya pelabuhan di Jakarta sejak zaman kolonial Belanda menjadi saksi perjalanan saya dan kawan-kawan. Bukan tanpa alasan, kapal menjadi pilihan transportasi kami untuk menjalankan misi kali ini.
Sebagai negara maritim, anak bangsa seperti kami wajib mewarisi tradisi nenek moyang sebagai seorang pelaut. Bagi kami, Indonesia bukan negara kepulauan, tetapi negara lautan yang ditaburi oleh pulau-pulau. Potensi dan kekayaan lautnya menjadi alasan mengapa harus ada ekspedisi maritim ini.
Selain itu, biaya naik kapal terbilang cukup murah, yakni berkisar antara Rp 600.000-an. Ekspedisi yang saya impikan ini menuju ke Indonesia bagian timur, tepatnya di pulau rempah-rempah, Maluku. Bukan hanya sekedar liburan, kami juga akan melakukan pengabdian di Desa Lebetawi, Kota Tual, Maluku Tenggara.
Sore itu, senja menemani kami menjinjing beberapa peralatan menaiki tangga menuju kapal. Saya dan 17 orang lainnya menjadi salah satu bagian dari hiruk pikuk penumpang kapal besar yang memiliki tujuh dek tersebut, yakni kapal Dobonsolo.
Ransel, box, carrier, kardus, dan beberapa koper adalah cadangan amunisi kami selama satu bulan pengabdian di sana. Untuk menuju Maluku atau pelabuhan Ambon, waktu yang diperlukan adalah lima hari.
Beberapa pelabuhan terlewati, diantaranya Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Bau-Bau, Pelabuhan Ambon, dan setelah itu kapal akan bergerak mengangkut penumpang menuju Papua.
Selama enam hari di kapal, sejauh mata memandang hanya terdapat lautan tenang bergradasi biru tua dan biru muda. Tak ada suara apa-apa, selain suara mesin kapal yang membelah gulungan ombak dan suara beberapa penumpang yang sedang bercengkrama mengusir kebosanan.
Oh iya, ada satu lagi, sesekali suara klakson kapal juga cukup mengagetkan seisi kapal. Hingga saat kapal tepat berada di atas Laut Banda, ombak yang menghantam kapal semakin besar. Laut Banda adalah salah satu laut yang menyeramkan, karena laut ini mempunyai palung atau jurang laut terdalam di Indonesia, kedalaman palung Laut Banda mencapai hingga 7000 meter.
Kami membayangkannya seperti lubang kematian, jadi siapapun yang melewati negeri di atas ombak ini harus berhati-hati dan banyak berdoa. Keadaan ombak seperti ini, membuat sejumlah penumpang kapal merasakan pusing dan mual, karena terkoyak oleh hantaman air laut. Ombak terasa seolah mengamuk bersama angin laut.
Sempat Menjadi Puntung Rokok di Kapal
Setelah empat hari berjibaku dengan lautan, akhirnya waktu mulai menunjukkan perbedaan dengan biasanya, iya, ponselku berganti dengan Waktu Indonesia Timur. Ambon, memiliki kontur pegunungan yang dikelilingi laut. Khas laut di sini mempunyai air yang berwarna hijau kebiru-biruan, bening, hingga nemo-nemo di dalam air pun terlihat dari permukaan.
Apa yang kalian lihat di internet atau tv tak seberapa dibanding pemandangan asli yang ditangkap langsung oleh lensa mata. Kami tak ingin menyia-nyiakan dua hari ini hanya untuk berdiam diri, karena Ambon terlalu manis untuk dilewatkan.
Saat yang ditunggu pun tiba. Tidar, kapal ini yang akan mengantar kami menyebrang menuju Maluku Tenggara selama satu hari satu malam. Akan tetapi naasnya, apes menimpa kami. Saat itu, kapal penuh dengan penumpang, sehingga tak ada tempat yang tersisa untuk kami beristirahat.
Alhasil, kami harus tidur di dek luar, tepatnya di dek tujuh, di bawah tangga, di teras-teras kapal. Saat malam tiba, angin laut berhembus sangat kencang menusuk hingga ke tulang, hujan pun turun melengkapi kemalangan kami, berbagai cara dilakukan untuk menghangatkan badan dan memejamkan mata dengan tenang.
Kami menata tas-tas sebagai pembatas untuk tidur, hammock untuk menghalau angin laut, dan beberapa peralatan lainnya untuk alas, bantal, dan selimut. Segala peralatan terpaksa kami keluarkan untuk menyelamatkan diri dari kedinginan, termasuk matras, sleeping bag, dan banner bekas untuk alas. Persis, dalam waktu sehari semalam itu kami tak ubahnya seperti puntung rokok yang berceceran, sedih si tetapi menantang.
Tual, Mutiara di Ranah Timur
Sedikit menolak lupa, pada zaman dahulu tepatnya sekitar abad XV dan XVI, disebutkan dalam buku Adrian B. Lapian, bahwa Tual menjadi salah satu daerah yang memproduksi kapal-kapal yang digunakan oleh para pedagang di Nusantara.
Akan tetapi, jejak sejarah dan pencapaian itu seolah hilang ditelan waktu, tidak ada peninggalan yang dapat menjelaskan secara detail tentang sejarah kapal-kapal tersebut. Yang ada hingga kini, hanyalah Tual dengan sejuta pesona alamnya.
Belum juga kapal berhenti di pelabuhan Tual, mata sudah dimanjakan dengan pemandangan laut yang berwarna hijau bening dan airnya yang tenang. Sesekali terlihat gundukan pasir di tengah laut yang berwarna putih muncul ke permukaan air.
Tak henti-hentinya kami berdecak kagum melihat apa yang tersaji di depan mata, seperti lukisan tiga dimensi dan ini lebih nyata. Kami berteriak histeris setiap kali melihat jernihnya air laut yang mengelilingi kota ini. Maklum, setiap hari kami terus terjebak dalam hiruk pikuk dunia metropolitan, dimana-mana yang ditemui hanyalah gedung-gedung pencakar langit yang dikelilingi asap polutan.
Tual, hanyalah kota kecil, yang dihuni oleh suku Kei dengan beragam nama marga yang ada. Hanya ada empat kecamatan di kota ini, diantaranya Kecamatan Pulau Kur-Kur, Tayando Tam, Dullah Utara, dan Dullah Selatan.
Lebetawi, desa yang akan kami kunjungi tepat berada di Kecamatan Dullah Utara dan bersebrangan dengan Desa Dullah Laut. Hari pertama kedatangan kami, disambut oleh tarian khas Kepulaun Kei, yakni Tari Panah yang dibawakan oleh murid-murid. Tari panah ini dibawakan oleh 7-15 anak laki-laki, masing-masing dari mereka membawa panah dan satu orang membawa pedang kemudian meliuk-liukan pedang tersebut di depan kami.
Tarian ini mempunyai makna, jikalau ada dari kami yang datang ini merasa takut, berarti dianggap sebagai penyusup atau penjahat. Tari ini juga diiringi oleh nyanyian adat khas timur. Rasa haru dan bahagia tak bisa dibendung lagi melihat ragam khas yang dimiliki Indonesia di wilayah timur ini.
Warga berkumpul menyambut kami dengan senyuman. Hal ini menandakan bahwa mereka bersikap terbuka dan siap menerima perubahan yang akan kami lakukan. Satu bulan mengabdi di sini terasa sangat menyenangkan, beragam karakter orang timur kami temui, keras memang tetapi mereka baik sekali khususnya kepada tamu, seperti kami. Kami sudah dianggap layaknya seperti keluarga sendiri, erat sekali.
Setiap hari kami melihat laut, makan hasil laut, bermain di laut, hingga mandi pun di laut. Inilah masyarakat maritim yang kami maksud, memanfaatkan dan menjaga laut dengan maksimal. Layaknya sebuah ladang dan halaman, laut menjadi sumber harapan masyarakat Tual. Tak mau kalah dengan tarian ombak yang setiap waktu menghantam pasir di pantai, kami dan para mama disini setiap hari juga melakukan senam Tobelo, dan Nona Kei Ratu, senam khas Kepulauan Kei.
Usai pengabdian selama satu bulan, kami mempunyai waktu untuk mengeksplor segala apa saja yang ada di Kota Tual. Waktu tersebut benar-benar kami manfaatkan untuk melepaskan penat, melihat sisi lain dari kota kecil ini, barangkali untuk beberapa puluh tahun ke depan, kota ini tenggelam ditelan samudera. Semoga saja tidak.
Pulau Bair
Perjalanan pertama, kami mengunjungi Pulau Bair diantar oleh warga Desa Lebetawi. Mereka menyediakan dua kapal nelayan untuk kami tumpangi beserta pisang goreng untuk bekal selama dua jam perjalanan dari Desa Lebetawi menuju Pulau Bair. Walaupun kapal ini membuat sedikit gatal di kulit, akan tetapi kami tetap bersyukur atas fasilitas yang warga berikan.
Entah ini kejutan yang keberapa kali yang Tuhan berikan kepada kami. Dua jam perjalanan sangat tak terasa, mata kami sibuk berputar mengelili luasnya lautan dan telinga dengan asyiknya mendengarkan deru ombak yang menenangkan. Beberapa kali kami menemui pulau-pulau karang yang dihiasi tanaman-tanaman yang berwarna hijau. Cantik nian bumi pertiwi ini.
Begitu sampai di Pulau Bair, barisan-barisan pulau karang yang tinggi sangat elok dipandang mata. Burung-burung kaka laut berhamburan terbang ketika kami mulai memasuki kawasan ini dengan perahu. Mungkin burung-burung itu merasa terusik dengan kehadiran kami di habitat mereka.
Layaknya burung surga, mereka berwarna putih cantik, bergerombol bersama-sama terbang untuk mencari penghidupan. Disana, kami mendaki puncak bukit karang, rumayan curam dan terjal memang, ceroboh sedikit bisa jadi kami terpeleset ke bebatuan karang atau mungkin jatuh di antara curamnya tebing karang lalu tercebur ke laut.
Dari atas bukit karang, kami bisa melihat keindahan gugusan bukit-bukit karang dan pepohonan hijau, serta melihat jernihnya air laut yang berwarna hijau tosca. Untungnya laut di sini berpasir dan tidak terlalu dalam, arusnya pun cukup tenang, jadi siapapun bisa berenang bebas.
Sebagian orang mengatakan bahwa Pulau Bair adalah Raja Ampat nya Maluku. Memang mirip, tetapi kami tidak setuju kalau ini dikatakan sebagai Raja Ampat. Bagi kami, setiap tempat di Indonesia memiliki keindahannya masing-masing dan itu bukan untuk dibandingkan atau disamakan.
Pulau Adranan
Tak jauh dari Pulau Bair, untuk mencapai Pulau Adranan diperlukan waktu sekitar 30 menit dari Pulau Bair. Berbeda dengan Pulau Bair, Pulau Adranan merupakan pulau tak berpenduduk yang mempunyai pasir yang berwarna putih, sebagian wilayahnya masih diisi oleh hutan bakau. Walaupun tidak terlalu luas, kami puas bermain-main air disini.
Lagi lagi jangan ditanyakan lagi bagaimana jernihnya air laut di Pulau Adranan ini, bahkan terlihat seperti terdapat garis cakrawala antara air yang berwarna biru dan air yang berwarna hijau. Umumnya air yang berwarna hijau itu dangkal, dan bawahnya berpasir.
Jadi, kami bisa bermain air disini, bahkan kami tak perlu pikir panjang untuk berguling-guling di atas pasir, karena pasirnya pun bersih dan berwarna putih. Tetapi, Pulau Adranan bukanlah pulau yang dikelola oleh pemerintah setempat, pengunjung pun mungkin tak banyak yang tahu keberadaan pulau ini, layaknya Private Island gitu.
Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang juga merupakan destinasi wisata yang menarik di Tual. Kabarnya, pasir di pantai ini merupakan pasir pantai terhalus nomor dua di dunia. Siapapun yang datang kesini, tak akan menyesal dibuatnya.
Pantai yang sangat halus, bersih dan berwarna putih dipadukan dengan air laut yang hijau bening, membuat tempat ini ramai dikunjungi para wisatawan. Di sepanjang pesisir pantai, pohon kelapa berjajar sembari melambai-lambaikan daunnya. Tidak hanya berenang, kami di sini juga goyang Tobela dan Nona Kei Ratu bersama para wisatawan lainnya.
Berbeda dengan Pantai Pasir Panjang, Pantai Ngurtafur yang bisa dikunjungi dengan menyebrang dari Pantai Pasir Panjang mempunyai sensasi dan pemandangan luar biasa. Pantai yang terdapat di tengah-tengah laut ini, mempunyai pasir timbul yang mengarah ke tengah laut sepanjang dua kilometer. Jika dilihat dari atas atau dari kejauhan, pantai ini seperti ular putih yang sedang melekuk-lekuk. Ah rasanya tidak ada kata yang dapat mewakili keindahannya.
Embal
Masih banyak lagi destinasi pantai di Tual yang bisa dikunjungi, tentunya setiap pantai mempunyai keunikan masing-masing. Sayangnya di Tual tidak ada souvernir khas yang bisa dibawa pulang. Akan tetapi, Akar bahar , gelang-gelangan, gantungan kunci juga bisa menjadi alternatif pilihan oleh-oleh untuk kerabat di rumah.
Berbicara soal kuliner khas Tual, terdapat makanan-makanan lokal yang masih sering diolah oleh masyarakat. Ialah Embal, makanan khas yang terbuat dari perasan sari singkong kasbi. Embal memiliki tekstur yang keras, berwarna putih, dan rasa yang tawar.
Sebagai alternatif makanan pokok, biasanya embal dinikmati bersama kuah makanan dan dimakan bersama nasi. Embal juga bisa dinikmati dengan secangkir teh hangat atau kopi di pagi hari. Hampir setiap hari, masyarakat di Tual masih mengkonsumsi makanan tradisional ini. Selain itu, Embal biasanya juga dijual di tempat-tempat wisata di Tual.
Setelah satu bulan menjelajah Kota Tual, tuntutan kuliah dan pekerjaan membuat kami harus kembali ke Ibukota. Tak seperti berangkat, perjalanan pulang kali ini ditempuh dengan menaiki pesawat.
Kami memilih berangkat dari bandara Pattimura Ambon, jadi kami harus menyebrang dengan kapal terlebih dahulu. Perjalanan udara dari Bandara Pattimura, Ambon ke Cengkareng, Jakarta membutuhkan waktu dua jam, dengan kisaran harga tiket kurang lebih satu juta rupiah.
Akses yang cukup susah dari Tual, tidak membuat kami kesulitan karena #semuaadatiketnya di tiket.com. Jadi, kami bisa booking atau pesen tiket pesawat dari jauh-jauh hari. Selain cepat, naik pesawat juga lebih nyaman dan prosedur keamanannya lebih terjamin.
Selain keamanannya terjamin, pemesanan tiketnya pun mudah diakses, cukup membuka aplikasi tiket.com, terus tinggal pilih maskapai dan jadwal yang sesuai dengan kami.
Awal mula perjalanan kami menjalajahi Indonesia. Tanjung Priuk, satu-satunya pelabuhan di Jakarta sejak zaman kolonial Belanda menjadi saksi perjalanan saya dan kawan-kawan. Bukan tanpa alasan, kapal menjadi pilihan transportasi kami untuk menjalankan misi kali ini.
Sebagai negara maritim, anak bangsa seperti kami wajib mewarisi tradisi nenek moyang sebagai seorang pelaut. Bagi kami, Indonesia bukan negara kepulauan, tetapi negara lautan yang ditaburi oleh pulau-pulau. Potensi dan kekayaan lautnya menjadi alasan mengapa harus ada ekspedisi maritim ini.
Selain itu, biaya naik kapal terbilang cukup murah, yakni berkisar antara Rp 600.000-an. Ekspedisi yang saya impikan ini menuju ke Indonesia bagian timur, tepatnya di pulau rempah-rempah, Maluku. Bukan hanya sekedar liburan, kami juga akan melakukan pengabdian di Desa Lebetawi, Kota Tual, Maluku Tenggara.
Sore itu, senja menemani kami menjinjing beberapa peralatan menaiki tangga menuju kapal. Saya dan 17 orang lainnya menjadi salah satu bagian dari hiruk pikuk penumpang kapal besar yang memiliki tujuh dek tersebut, yakni kapal Dobonsolo.
Ransel, box, carrier, kardus, dan beberapa koper adalah cadangan amunisi kami selama satu bulan pengabdian di sana. Untuk menuju Maluku atau pelabuhan Ambon, waktu yang diperlukan adalah lima hari.
Beberapa pelabuhan terlewati, diantaranya Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Bau-Bau, Pelabuhan Ambon, dan setelah itu kapal akan bergerak mengangkut penumpang menuju Papua.
Selama enam hari di kapal, sejauh mata memandang hanya terdapat lautan tenang bergradasi biru tua dan biru muda. Tak ada suara apa-apa, selain suara mesin kapal yang membelah gulungan ombak dan suara beberapa penumpang yang sedang bercengkrama mengusir kebosanan.
Oh iya, ada satu lagi, sesekali suara klakson kapal juga cukup mengagetkan seisi kapal. Hingga saat kapal tepat berada di atas Laut Banda, ombak yang menghantam kapal semakin besar. Laut Banda adalah salah satu laut yang menyeramkan, karena laut ini mempunyai palung atau jurang laut terdalam di Indonesia, kedalaman palung Laut Banda mencapai hingga 7000 meter.
Kami membayangkannya seperti lubang kematian, jadi siapapun yang melewati negeri di atas ombak ini harus berhati-hati dan banyak berdoa. Keadaan ombak seperti ini, membuat sejumlah penumpang kapal merasakan pusing dan mual, karena terkoyak oleh hantaman air laut. Ombak terasa seolah mengamuk bersama angin laut.
Sempat Menjadi Puntung Rokok di Kapal
Setelah empat hari berjibaku dengan lautan, akhirnya waktu mulai menunjukkan perbedaan dengan biasanya, iya, ponselku berganti dengan Waktu Indonesia Timur. Ambon, memiliki kontur pegunungan yang dikelilingi laut. Khas laut di sini mempunyai air yang berwarna hijau kebiru-biruan, bening, hingga nemo-nemo di dalam air pun terlihat dari permukaan.
Apa yang kalian lihat di internet atau tv tak seberapa dibanding pemandangan asli yang ditangkap langsung oleh lensa mata. Kami tak ingin menyia-nyiakan dua hari ini hanya untuk berdiam diri, karena Ambon terlalu manis untuk dilewatkan.
Saat yang ditunggu pun tiba. Tidar, kapal ini yang akan mengantar kami menyebrang menuju Maluku Tenggara selama satu hari satu malam. Akan tetapi naasnya, apes menimpa kami. Saat itu, kapal penuh dengan penumpang, sehingga tak ada tempat yang tersisa untuk kami beristirahat.
Alhasil, kami harus tidur di dek luar, tepatnya di dek tujuh, di bawah tangga, di teras-teras kapal. Saat malam tiba, angin laut berhembus sangat kencang menusuk hingga ke tulang, hujan pun turun melengkapi kemalangan kami, berbagai cara dilakukan untuk menghangatkan badan dan memejamkan mata dengan tenang.
Kami menata tas-tas sebagai pembatas untuk tidur, hammock untuk menghalau angin laut, dan beberapa peralatan lainnya untuk alas, bantal, dan selimut. Segala peralatan terpaksa kami keluarkan untuk menyelamatkan diri dari kedinginan, termasuk matras, sleeping bag, dan banner bekas untuk alas. Persis, dalam waktu sehari semalam itu kami tak ubahnya seperti puntung rokok yang berceceran, sedih si tetapi menantang.
Tual, Mutiara di Ranah Timur
Sedikit menolak lupa, pada zaman dahulu tepatnya sekitar abad XV dan XVI, disebutkan dalam buku Adrian B. Lapian, bahwa Tual menjadi salah satu daerah yang memproduksi kapal-kapal yang digunakan oleh para pedagang di Nusantara.
Akan tetapi, jejak sejarah dan pencapaian itu seolah hilang ditelan waktu, tidak ada peninggalan yang dapat menjelaskan secara detail tentang sejarah kapal-kapal tersebut. Yang ada hingga kini, hanyalah Tual dengan sejuta pesona alamnya.
Belum juga kapal berhenti di pelabuhan Tual, mata sudah dimanjakan dengan pemandangan laut yang berwarna hijau bening dan airnya yang tenang. Sesekali terlihat gundukan pasir di tengah laut yang berwarna putih muncul ke permukaan air.
Tak henti-hentinya kami berdecak kagum melihat apa yang tersaji di depan mata, seperti lukisan tiga dimensi dan ini lebih nyata. Kami berteriak histeris setiap kali melihat jernihnya air laut yang mengelilingi kota ini. Maklum, setiap hari kami terus terjebak dalam hiruk pikuk dunia metropolitan, dimana-mana yang ditemui hanyalah gedung-gedung pencakar langit yang dikelilingi asap polutan.
Tual, hanyalah kota kecil, yang dihuni oleh suku Kei dengan beragam nama marga yang ada. Hanya ada empat kecamatan di kota ini, diantaranya Kecamatan Pulau Kur-Kur, Tayando Tam, Dullah Utara, dan Dullah Selatan.
Lebetawi, desa yang akan kami kunjungi tepat berada di Kecamatan Dullah Utara dan bersebrangan dengan Desa Dullah Laut. Hari pertama kedatangan kami, disambut oleh tarian khas Kepulaun Kei, yakni Tari Panah yang dibawakan oleh murid-murid. Tari panah ini dibawakan oleh 7-15 anak laki-laki, masing-masing dari mereka membawa panah dan satu orang membawa pedang kemudian meliuk-liukan pedang tersebut di depan kami.
Tarian ini mempunyai makna, jikalau ada dari kami yang datang ini merasa takut, berarti dianggap sebagai penyusup atau penjahat. Tari ini juga diiringi oleh nyanyian adat khas timur. Rasa haru dan bahagia tak bisa dibendung lagi melihat ragam khas yang dimiliki Indonesia di wilayah timur ini.
Warga berkumpul menyambut kami dengan senyuman. Hal ini menandakan bahwa mereka bersikap terbuka dan siap menerima perubahan yang akan kami lakukan. Satu bulan mengabdi di sini terasa sangat menyenangkan, beragam karakter orang timur kami temui, keras memang tetapi mereka baik sekali khususnya kepada tamu, seperti kami. Kami sudah dianggap layaknya seperti keluarga sendiri, erat sekali.
Setiap hari kami melihat laut, makan hasil laut, bermain di laut, hingga mandi pun di laut. Inilah masyarakat maritim yang kami maksud, memanfaatkan dan menjaga laut dengan maksimal. Layaknya sebuah ladang dan halaman, laut menjadi sumber harapan masyarakat Tual. Tak mau kalah dengan tarian ombak yang setiap waktu menghantam pasir di pantai, kami dan para mama disini setiap hari juga melakukan senam Tobelo, dan Nona Kei Ratu, senam khas Kepulauan Kei.
Usai pengabdian selama satu bulan, kami mempunyai waktu untuk mengeksplor segala apa saja yang ada di Kota Tual. Waktu tersebut benar-benar kami manfaatkan untuk melepaskan penat, melihat sisi lain dari kota kecil ini, barangkali untuk beberapa puluh tahun ke depan, kota ini tenggelam ditelan samudera. Semoga saja tidak.
Pulau Bair
Perjalanan pertama, kami mengunjungi Pulau Bair diantar oleh warga Desa Lebetawi. Mereka menyediakan dua kapal nelayan untuk kami tumpangi beserta pisang goreng untuk bekal selama dua jam perjalanan dari Desa Lebetawi menuju Pulau Bair. Walaupun kapal ini membuat sedikit gatal di kulit, akan tetapi kami tetap bersyukur atas fasilitas yang warga berikan.
Entah ini kejutan yang keberapa kali yang Tuhan berikan kepada kami. Dua jam perjalanan sangat tak terasa, mata kami sibuk berputar mengelili luasnya lautan dan telinga dengan asyiknya mendengarkan deru ombak yang menenangkan. Beberapa kali kami menemui pulau-pulau karang yang dihiasi tanaman-tanaman yang berwarna hijau. Cantik nian bumi pertiwi ini.
Begitu sampai di Pulau Bair, barisan-barisan pulau karang yang tinggi sangat elok dipandang mata. Burung-burung kaka laut berhamburan terbang ketika kami mulai memasuki kawasan ini dengan perahu. Mungkin burung-burung itu merasa terusik dengan kehadiran kami di habitat mereka.
Layaknya burung surga, mereka berwarna putih cantik, bergerombol bersama-sama terbang untuk mencari penghidupan. Disana, kami mendaki puncak bukit karang, rumayan curam dan terjal memang, ceroboh sedikit bisa jadi kami terpeleset ke bebatuan karang atau mungkin jatuh di antara curamnya tebing karang lalu tercebur ke laut.
Dari atas bukit karang, kami bisa melihat keindahan gugusan bukit-bukit karang dan pepohonan hijau, serta melihat jernihnya air laut yang berwarna hijau tosca. Untungnya laut di sini berpasir dan tidak terlalu dalam, arusnya pun cukup tenang, jadi siapapun bisa berenang bebas.
Sebagian orang mengatakan bahwa Pulau Bair adalah Raja Ampat nya Maluku. Memang mirip, tetapi kami tidak setuju kalau ini dikatakan sebagai Raja Ampat. Bagi kami, setiap tempat di Indonesia memiliki keindahannya masing-masing dan itu bukan untuk dibandingkan atau disamakan.
Pulau Adranan
Tak jauh dari Pulau Bair, untuk mencapai Pulau Adranan diperlukan waktu sekitar 30 menit dari Pulau Bair. Berbeda dengan Pulau Bair, Pulau Adranan merupakan pulau tak berpenduduk yang mempunyai pasir yang berwarna putih, sebagian wilayahnya masih diisi oleh hutan bakau. Walaupun tidak terlalu luas, kami puas bermain-main air disini.
Lagi lagi jangan ditanyakan lagi bagaimana jernihnya air laut di Pulau Adranan ini, bahkan terlihat seperti terdapat garis cakrawala antara air yang berwarna biru dan air yang berwarna hijau. Umumnya air yang berwarna hijau itu dangkal, dan bawahnya berpasir.
Jadi, kami bisa bermain air disini, bahkan kami tak perlu pikir panjang untuk berguling-guling di atas pasir, karena pasirnya pun bersih dan berwarna putih. Tetapi, Pulau Adranan bukanlah pulau yang dikelola oleh pemerintah setempat, pengunjung pun mungkin tak banyak yang tahu keberadaan pulau ini, layaknya Private Island gitu.
Pantai Pasir Panjang
Pantai Pasir Panjang juga merupakan destinasi wisata yang menarik di Tual. Kabarnya, pasir di pantai ini merupakan pasir pantai terhalus nomor dua di dunia. Siapapun yang datang kesini, tak akan menyesal dibuatnya.
Pantai yang sangat halus, bersih dan berwarna putih dipadukan dengan air laut yang hijau bening, membuat tempat ini ramai dikunjungi para wisatawan. Di sepanjang pesisir pantai, pohon kelapa berjajar sembari melambai-lambaikan daunnya. Tidak hanya berenang, kami di sini juga goyang Tobela dan Nona Kei Ratu bersama para wisatawan lainnya.
Berbeda dengan Pantai Pasir Panjang, Pantai Ngurtafur yang bisa dikunjungi dengan menyebrang dari Pantai Pasir Panjang mempunyai sensasi dan pemandangan luar biasa. Pantai yang terdapat di tengah-tengah laut ini, mempunyai pasir timbul yang mengarah ke tengah laut sepanjang dua kilometer. Jika dilihat dari atas atau dari kejauhan, pantai ini seperti ular putih yang sedang melekuk-lekuk. Ah rasanya tidak ada kata yang dapat mewakili keindahannya.
Embal
Masih banyak lagi destinasi pantai di Tual yang bisa dikunjungi, tentunya setiap pantai mempunyai keunikan masing-masing. Sayangnya di Tual tidak ada souvernir khas yang bisa dibawa pulang. Akan tetapi, Akar bahar , gelang-gelangan, gantungan kunci juga bisa menjadi alternatif pilihan oleh-oleh untuk kerabat di rumah.
Berbicara soal kuliner khas Tual, terdapat makanan-makanan lokal yang masih sering diolah oleh masyarakat. Ialah Embal, makanan khas yang terbuat dari perasan sari singkong kasbi. Embal memiliki tekstur yang keras, berwarna putih, dan rasa yang tawar.
Sebagai alternatif makanan pokok, biasanya embal dinikmati bersama kuah makanan dan dimakan bersama nasi. Embal juga bisa dinikmati dengan secangkir teh hangat atau kopi di pagi hari. Hampir setiap hari, masyarakat di Tual masih mengkonsumsi makanan tradisional ini. Selain itu, Embal biasanya juga dijual di tempat-tempat wisata di Tual.
Setelah satu bulan menjelajah Kota Tual, tuntutan kuliah dan pekerjaan membuat kami harus kembali ke Ibukota. Tak seperti berangkat, perjalanan pulang kali ini ditempuh dengan menaiki pesawat.
Kami memilih berangkat dari bandara Pattimura Ambon, jadi kami harus menyebrang dengan kapal terlebih dahulu. Perjalanan udara dari Bandara Pattimura, Ambon ke Cengkareng, Jakarta membutuhkan waktu dua jam, dengan kisaran harga tiket kurang lebih satu juta rupiah.
Akses yang cukup susah dari Tual, tidak membuat kami kesulitan karena #semuaadatiketnya di tiket.com. Jadi, kami bisa booking atau pesen tiket pesawat dari jauh-jauh hari. Selain cepat, naik pesawat juga lebih nyaman dan prosedur keamanannya lebih terjamin.
Selain keamanannya terjamin, pemesanan tiketnya pun mudah diakses, cukup membuka aplikasi tiket.com, terus tinggal pilih maskapai dan jadwal yang sesuai dengan kami.
Sumber : detik.com