Indahnya Danau Toba Bersolek Alam dan Kekayaan Budaya
![]() |
Salah satu penginapan bernuansa rumah adat batak di Tuk-tuk-Dokumentasi Pribadi
|
Saya tidak pernah terpikir jika tahun ini akan
berkunjung ke Samosir. Terakhir sekaligus kali pertama menyeberang
kesana sekitar tiga tahun lalu. Sebelumnya hanya bisa menikmati
keindahannya dari dalam bus setiap kali ke Medan.
Karena sudah pernah kesana maka jika ada kesempatan saya lebih memilih backpaker
ke Pusu Buhit, Simarjarunjung atau menginap di Tuk-tuk lalu minum kopi
Sidikkalang di pagi hari usai menceburkan diri menikmati dinginnya air
Danau Toba. Hal yang juga kami lakukan pada waktu itu. Menyambangi Tomok
berkali-kali, berenang berkali-kali dan minum kopi berkali-kali.
Saya
juga ingin ke Samosir dengan jalur berbeda, berangkat dari Taput
melewati Tele langsung ke Samosir dan kembali menyeberang dari Parapat.
Melewati Berastagi-Sidikkalang lalu Samosir kemudian pulang dari Parapat
sepertinya menarik juga. Gak salah bermimpi kan, ya?
Tapi ya,
biarlah angan ini disimpan dulu. Kabarnya masih banyak sekali tempat
yang begitu bagus yang belum pernah saya injak di nusantara ini.

Jalan raya setelah kami keluar dari kapal penumpang. Aktivitas masyarakat sekitar pukul sebelas pagi.-Dokumentasi Pribadi
Tadaa... Kenyataan membawa saya ke
danau toba lagi. Saya bersyukur untuk itu. Setelah hujan mengguyur kota
Medan yang sempat dihujam panas terik, kami berangkat dan tiba di
Parapat lima jam kemudian. Setelah itu makan malam, langsung ke
penginapan dan tanpa terasa, ternyata sudah pagi saja. Bangun oleh suara
teman-teman yang mulai beraktivitas, mempersiapkan diri berangkat ke
Samosir.
Ajibata ke Tomok memakan waktu empat puluh lima menit
dengan menggunakan kapal, menyeberangi Danau Toba. Tak jauh dari
penginapan kami bergegas ke Pelabuhan Ajibata, tempat penyeberangan
menuju Samosir. Saat kami tiba, belasan kendaraan pribadi dan truk sudah
masuk jalur antrian menunggu kapal Ferry. Disana, tempat pelabuhan
kapal Ferry yang khusus membawa transpotasi dan barang.
Kabar-kabarnya
akan ada dua Ferry yang beroperasi mengingat kebutuhan penumpang
meningkat hari itu. Dua orang teman bersedia naik kapal Ferry bersama
kendaraan yang kami tumpangi sedang yang lain ikut kapal penumpang.
Masih di Ajibata di tempat yang terpisah tersedia pelabuhan khusus
penumpang. Jadilah kami duluan berangkat.

Jadwal penyeberangan Ferry KMP. Tao-Toba-Dokumentasi Pribadi
Pelabuhan Tomok (Pelabuhan Sumber
Sari) adalah perhentian terakhir setelah kami meninggalkan Ajibata.
Dengan membayar Rp 8.000 ribu rupiah per orang kami sudah tiba. Udara
sejuk menutupi terik matahari pagi itu. Suhu di Danau Toba yang kata
teman saya sudah semakin meningkat saja tidak terasa panas.
Sembari
menunggu kedatangan mereka, kami sepakat berkeliling ke beberapa titik
tempat wisata budaya yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki tak jauh
dari pelabuhan. Keluar dari pelabuhan Tomok, belok kanan ke pusat
perbelanjaan. Tomok merupakan bahasa Batak artinya gemuk atau tambun.
Disana terdapat pusat perbelanjaan khas etnis Batak. Mendaki mengikuti
jalan pusat perbelanjaan, nanti akan bertemu Kampung Batak, Kuburan Raja
Sidabutar dan sebuah museum.
Kampung Batak

Rombongan pengunjung sedang
Deretan rumah adat batak
terdapat di kampung batak ini berada sebelum kuburan Raja Sidabutar.
Lokasinya agak tersembunyi karena ditutupi deretan dagangan oleh-oleh
khas batak. Suara khas yang terdengar berupa musik adat batak "gondang"
(musik khas batak) akan terdengar bersumber dari kampung batak
menandakan ada tarian Sigale-gale. Kita bisa mengikuti arah suarah dan
berjalan ke arah sana atau bertanya pada orang sekitar.
Kampung Batak tepatnya tempat pertunjukan Si Gale-gale diadakan. Setiap pengunjung bisa ikut "manortor" (menari tarian Batak) bersama teman-teman mengikuti bunyi "gondang".
Untuk
menikmati tarian bersama Sigale-gale, katanya bisa memesan para penari.
Tetapi saya belum pernah melihat para penari tersebut. Biasanya para
pengunjung yang akan "manortor" bersama rombongannya.
Saya belum
melihat rombongan penari yang bisa dipesan untuk pertunjukan adat
batak. Saya kurang tahu apakah ada pemandu satu atau dua orang yang
khusus mengarahkan pengunjung agar bisa menikmati "tor-tor" yang bisa
dipesan kapan saja langsung di tempat.
Agak sayang jika ada
rombongan yang sama sekali tidak tahu "tor-tor" tapi mereka berminat
mencoba menari bersama Sigale-gale. Pada moment-moment tertentu seperti
musim liburan misalnya. Saya kira ini akan menjadi pengalaman baru bagi
para pengunjung. Kunjungan wisata pun akan lebih menarik.
Ke pemakaman Sidabutar.

Pengujung yang akan memasuki
Pemakaman Raja Sidabutar sedang mengenakan ulos batak. Foto diambil dari
dalam lokasi kuburan-Dokumentasi Pribadi
Siapa saja bisa memasuki
pemakaman Sidabutar asal menggunakan ulos batak yang disediakan di pintu
masuk kuburan. Menggunakan ulos pada saat memasuki pemakaman sebagai
kesopanan menghormati adat setempat. Konon, Sidabutar ialah orang yang
pertama kali datang ke Samosir sekaligus seorang raja.

Pemandu sedang menjelaskan sejarah dan silsilah Raja Sidabutar kepada rombongan turis-Dokumentasi Pribadi
Banyak cerita moral dituturkan pemandu
wisata yang sedang memandu rombongan turis tentang kisah Raja
Sidabutar. Setiap pemandu akan menceritakan begitu detail pada
benda-benda etnic batak yang ada di sekitar kuburan itu. Tempat duduk
yang berwarna merah, hitam, dan putih merupakan warna bendera orang
batak pada jaman itu.
Cicak bertengger di tiang pintu menghadap
payudara wanita. Cicak sebagai simbol kemampuan beradaptasi sedangkan
payudara wanita sebagai lambang ke makmuran. Meninggalkan kuburan
Sidabutar yang sudah berumur 469 tahun itu kita harus melepaskan ulos
batak pada seorang penjaga yang sekaligus pemandu disana.

Pintu keluar kuburan. Pada tiang
pintu terdapat patung hewan cicak dan payudara wanita. Simbol mudah
beradaptasi dan kemakmuran. Cicak menghadap payudara sebagai tanda bahwa
generasi muda selalu mengingat kampung halamannya-Dokumentasi Pribadi
Usai berkeliling, membeli oleh-oleh
kami turun menemui teman yang hampir saja sudah tiba di pelabuhan Ferry.
Lalu mencari tempat makan siang halal. Kamu, jangan takut berlibur ke
Danau Toba.
"Ada banyak tempat makan yang halal disana. Nanti
lihat saja di depan rumah makan bertuliskan rumah makan muslim." Begitu
kata saya pada teman yang berlibur bulan lalu kesana dari Jakarta.
One Day Trip
ke Tomok sangat mungkin dilakukan. Naik kapal penumpang dengan jadwal
tertentu dari pagi hingga malam dan membawa kendaraan pribadi atau
meninggalkan saja di pelabuhan Ajibata boleh juga. Supaya bisa
berkeliling leluasa, lebih baik seberangkan kendaraan pribadi juga, jika
punya waktu lebih ingin mengunjungi tempat-tempat lain.
Setelah itu silahkan lupa diri menikmati pemandangan alam dan kekayaan budaya.

Wefie-Dokumentasi Reza
Sumber : kompasiana.com