PRIA DI BANDUNG INI TIGA TAHUN DIPASUNG DLAM RUANGAN GELAP
![]() |
Foto: Mukhlis Dinillah |
Bandung - Malang sekali nasib Agus Setiawan (27), warga Cipicung
Girang, RT03/RW10, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota
Bandung. Tiga tahun sudah pria tersebut dipasung oleh keluarganya di
bangunan belakang rumah.
Agus terkurung di satu ruangan berukuran 2,5 meter persegi. Kaki kanannya terikat rantai besi. Dia telanjang.
Bau tak sedap begitu menyengat saat pintu ruangan tanpa sirkulasi itu terbuka. Semua kegiatan mulai dari makan, tidur hingga buang kotoran, dilakukan Agus dalam ruangan gelap ini.
Aktivitas Agus di ruangan kecil itu sangat terbatas. Ia hanya bisa berteriak-teriak dan sesekali berdiri. Namun, kondisi tubuhnya terlihat seperti orang sehat pada umumnya.
Pemasungan Agus oleh keluarganya bukan tanpa alasan. Keluarga terpaksa mengurung dan merantai kaki Agus lantaran mengidap gangguan jiwa. Perilakunya belakangan semakin memburuk dan kerap mengamuk.
"Dia (Agus) sering rusakin barang di rumah dan ngamuk-ngamuk. Pernah juga nyelonong ke rumah warga ngambil barang terus dirusakin juga. Warga resah, jadinya terpaksa kami pasung. Sekarang (pemasungan) sudah tiga tahun," kata Endang Supriyatno (42) kakak ipar dari Agus di rumahnya, Senin (17/10/2016).
Endang mengatakan adik iparnya itu sudah tujuh tahun terakhir terisolasi dari dunia luar. Namun, baru tiga tahun terakhir Agus dipasung lantaran kerap mencoba untuk kabur saat dikurung di sebuah ruangan.
"Sudah pindah tempat tiga kali dikurungnya. Dua tempat sebelumnya enggak dirantai, cuma dikunci dari luar aja. Tapi dia bisa kabur ngedobrak pintu atau ngerusak jendela," ucapnya.
Ia menuturkan, Agus mengalami perubahan perilaku pada usia 14 tahun atau tak lama usai lulus SMP. Agus yang sebelumnya ceria tiba-tiba menjadi pendiam dan tertutup.
"Waktu usia 14 tahun, dia (Agus) tiba-tiba berubah jadi pendiam. Sering naik ke genteng dan kencing sembarangan," ujar Endang.
Meski terkurung dan terpasung, bukan berarti keluarga menelantarkan Agus. Keluarga tetap memberikan makan dua kali sehari kepada Agus. Selain itu memandikannya empat hari sekali sekaligus membersihkan ruang pemasungan.
"Keluarga terpaksa melakukan ini, bukan berarti menelantarkan. Kami tetap merawatnya," kata Endang.
Agus terkurung di satu ruangan berukuran 2,5 meter persegi. Kaki kanannya terikat rantai besi. Dia telanjang.
Bau tak sedap begitu menyengat saat pintu ruangan tanpa sirkulasi itu terbuka. Semua kegiatan mulai dari makan, tidur hingga buang kotoran, dilakukan Agus dalam ruangan gelap ini.
Aktivitas Agus di ruangan kecil itu sangat terbatas. Ia hanya bisa berteriak-teriak dan sesekali berdiri. Namun, kondisi tubuhnya terlihat seperti orang sehat pada umumnya.
Pemasungan Agus oleh keluarganya bukan tanpa alasan. Keluarga terpaksa mengurung dan merantai kaki Agus lantaran mengidap gangguan jiwa. Perilakunya belakangan semakin memburuk dan kerap mengamuk.
"Dia (Agus) sering rusakin barang di rumah dan ngamuk-ngamuk. Pernah juga nyelonong ke rumah warga ngambil barang terus dirusakin juga. Warga resah, jadinya terpaksa kami pasung. Sekarang (pemasungan) sudah tiga tahun," kata Endang Supriyatno (42) kakak ipar dari Agus di rumahnya, Senin (17/10/2016).
Endang mengatakan adik iparnya itu sudah tujuh tahun terakhir terisolasi dari dunia luar. Namun, baru tiga tahun terakhir Agus dipasung lantaran kerap mencoba untuk kabur saat dikurung di sebuah ruangan.
"Sudah pindah tempat tiga kali dikurungnya. Dua tempat sebelumnya enggak dirantai, cuma dikunci dari luar aja. Tapi dia bisa kabur ngedobrak pintu atau ngerusak jendela," ucapnya.
Ia menuturkan, Agus mengalami perubahan perilaku pada usia 14 tahun atau tak lama usai lulus SMP. Agus yang sebelumnya ceria tiba-tiba menjadi pendiam dan tertutup.
"Waktu usia 14 tahun, dia (Agus) tiba-tiba berubah jadi pendiam. Sering naik ke genteng dan kencing sembarangan," ujar Endang.
Meski terkurung dan terpasung, bukan berarti keluarga menelantarkan Agus. Keluarga tetap memberikan makan dua kali sehari kepada Agus. Selain itu memandikannya empat hari sekali sekaligus membersihkan ruang pemasungan.
"Keluarga terpaksa melakukan ini, bukan berarti menelantarkan. Kami tetap merawatnya," kata Endang.
Sumber : detik.com