ORANG KRISTEN DIGILAS MESIN GILING DI KOREA UTARA
![]() |
Kim Jong-un. (Foto: csmonitor.com) |
Laporan terbaru dari
Solidaritas Kristen Sedunia (CSW), sebuah lembaga pembelaan HAM asal
Inggris, menunjukkan detail yang mengerikan bagaimana rezim Korea Utara
menyiksa, membunuh, dan memutilasi orang-orang Kristen.
Bukan lagi sebuah rahasia bila rezim Korea Utara yang dipimpin Kim
Jong-Un telah memenjarakan puluhan ribu orang Kristen.
Mereka diwajibkan
kerja paksa, disiksa, dibunuh, dan rezim hanya mengatakan mereka adalah
warga Korea Utara yang memberontak terhadap pemerintah.
Laporan yang terdiri atas 15 halaman berjudul: Total Denial: Violations of Freedom of Religion or Belief in North Korea, menunjukkan
bahwa sekalipun Korea Utara merupakan anggota dari Perjanjian
Internasional tentang hak sipil dan politik, justru kebebasan beragama
tidak ada di negara itu.
Laporan tersebut menyatakan, “Penyangkalan terhadap hak sudah terjadi
sejak 1950an, oleh pemimpin terdahulu, dan dilanjutkan oleh Kim Jong-Un
yang melanggar kebebasan beragama. Keyakinan agama menjadi ancaman bagi
penguasa sehingga mereka yang menganut keyakinan-keyakinan ini
mengalami siksaan. Orang-orang Kristen mengalami siksaan yang signifikan
karena mereka juga dilabelkan sebagai antirevolusi dan antiimperialis
oleh penguasa.”
Meskipun sumber di Korea Selatan menemukan 123 institusi agama di
Korea Utara, sebagian besar adalah Buddha dan Cheondoist. Memang ada
tiga gereja Protestan, satu Katolik, dan sebuah gereja Ortodoks Rusia di
ibu kota Pyongyang, namun gereja-gereja sponsor itu hanya ada untuk
propaganda.
Memurut CSW, Lord David Alton dan Baroness Caroline Cox pernah
mengunjungi gereja-gereja tersebut, dan mereka menemukan tidak ada satu
pun imam di gereja-gereja itu.
“Meskipun gedung-gedung dan pelayanan keagamaan menunjuk kepada
tingkat kebebasan beragama, namun kebebasan itu dengan sangat kuat
dibatasi dan hanya ditujukan untuk pertunjukan kepada pengunjung dan
orang asing. Semua gereja ada di Pyongyang dan tidak ada catatan adanya
bangunan gereja di tempat lain,” lapor CSW.
Sekalipun penyebaran Injil dilarang dan dianggap kejahatan di Korea
Utara, banyak warga Korea Utara yang menjadi Kristen melalui hubungan
keluarga, misionaris, atau organisasi keagamaan lainnya.
Banyak warga Kristen Korea Utara yang melakukan ibadahnya secara
sembunyi-sembunyi. Mereka beribadah secara sendiri-sendiri atau
ibadah-ibadah rumah. Jemaat yang ketahuan menjalankan ibadah ditangkap
dan dipenjarakan bersama tawanan politik.
“Mereka mengalami siksaan, pembantaian, isolasi, perbudakan,
pemerkosaan, pelecehan seksual, dihilangkan, dan segala pelanggaran HAM
lainnya,” CSW menambahkan.
CSW juga melaporkan mereka memiliki catatan mengenai jenis-jenis
penganiayaan yang dialami orang Kristen di Korea Utara, adalah disalib
di tengah perapian, digilas dengan mesin giling uap, diinjak-injak, dan
penarikan badan.
Bukan hanya orang yang bersangkutan, namun keluarganya
juga turut dihukum. Mereka yang melarikan diri ke Tiongkok akan
dideportasi kembali kemudian dihukum.
Kim Il-Sung Dibesarkan dalam Kekristenan
Ini bukan laporan yang pertama mengenai orang Kristen yang digilas
dengan mesin giling uap. Sebelumnya, pada tahun 1996, lima orang Kristen
juga mengalami hal yang sama.
Suzanne Scholte, pemimpin Koalisi Kebebasan untuk Korea Selatan,
menyebutkan laporan CSW merupakan presentasi yang akurat bagaimana orang
Kristen dianiaya.
“Saya bahkan pernah mewancarai korban yang disiksa hanya karena
mereka dirumorkan menjadi Kristen. Kami juga mengetahui bila pengungsi
dipulangkan dari Tiongkok, dan mereka diketahui menjadi Kristen, mereka
akan dibunuh,” ujar Scholte.
“Rezim di sini sudah menyiapkan agar warga Korea Utara menyembah
dinasti Kim sebagai tuhan mereka, tidak ada hal yang menakutkan bagi
rezim ini selain penyebaran kekristenan. Pengetahuan akan satu Allah
yang Benar adalah ancaman terbesar bagi rezim ini,” Scholte memaparkan.
Ia meyakini penolakan rezim Korea Utara terhadap kekristenan karena
fakta dimana pemimpin terdahulu, Kim Il-Sung, dibesarkan dalam
kekristenan, dan mereka melihat bagaimana kekuatan iman Kristen dalam
melawan penjajahan Jepang.
“Kim menempatkan diri sebagai tuhan, menempatkan trinitas atas
dirinya. Kim Jong-Il sebagai Kristus, Juche (ideologi Korea Utara yang
dikembangkan Kim Il-Sung, Red) sebagai Roh Kudus. Warga Korea Utara
sejak kecil diajarkan untuk berdoa kepada bapa mereka, Kim Il-Sung
sebagai pengakuan iman mereka kepada pemimpin mereka.
Mereka diwajibkan
mempelajari ideologi Korea Utara di banyak pusat pembelajaran di Korea
Utara,” Scholte menambahkan.
Selama 14 tahun, Korea Utara menjadi negera nomor satu pengeksekusi umat Kristen di dunia.
Sumber: satuharapan.com