TAAT WALAU PAHIT
Baca: Hosea 1
Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.”(Hosea 1:10)
Bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (1:2-3).
Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.”(Hosea 1:10)
Bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (1:2-3).
Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki
lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali
dan membawanya pulang (3:1-3).
Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk.
Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk.
Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat?
Bukan. Bukan berkat yang Dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani
Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (1:4,
lihat 2 Raja-Raja 10:29, 31).
Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (tiada belas
kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah
menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka
berulang kali melawan Dia (1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9).
Bagi putra
bungsu: “Lo-Ami” (bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan
perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan
selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu
salib (Mat. 27:46)?
Kehidupan Hosea memang amat tragis. Tak dapat dipahami kenapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal.
Kehidupan Hosea memang amat tragis. Tak dapat dipahami kenapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal.
Tetapi, bagi Allah, ia
hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang
kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak. Lalu,
bagaimana dengan hidup kita?—HIS
KETAATAN PADA TUHAN LEBIH PENTING DARIPADA KEBERHASILAN HIDUP
Sumber: renunganharian.net
Gambar: Google