KEMANG TERGENANG, DAERAH RESAPAN AIR DILANGGAR
![]() |
Sejumlah mobil di Kemang Raya, Jakarta Selatan, nyaris tenggelam akibat banjir, Sabtu (27/8/2016) malam. |
JAKARTA,
Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Sabtu (27/8/2016) sore
menyebabkan tergenangnya sejumlah kawasan di Jakarta Selatan. Salah
satunya adalah kawasan Kemang. Kawasan ini menjadi kawasan yang paling
parah terdampak genangan.
Seperti yang dilaporkan melalui akun Twitter TMC Polda Metro Jaya,
banjir di Kemang menyebabkan kawasan tersebut tidak bisa dilalui
kendaraan. Banyak kendaraan yang terparkir nyaris tenggelam karena
banjir. Situasi ini masih terjadi sampai tengah malam.
Genangan di Kemang bukan sesuatu yang baru. Kawasan ini bahkan dapat
digolongkan sebagai kawasan yang rentan tergenang, terutama jika sedang
hujan deras.
Menilik ke belakang, rentannya Kemang tergenang sebenarnya bisa
dikatakan sebagai sesuatu yang bisa dimaklumi. Jika menilik sejarahnya,
Kemang memang merupakan daerah yang peruntukannya sebagai daerah resapan
air dengan hunian terbatas.
Berdasarkan data Litbang Kompas seperti dikutip harian Kompas, 20 Desember 2013, dalam artikel "RTRW Jakarta Dibuat untuk Dilanggar", penggunaan ruang di Jakarta sudah diatur dalam RTRW atau rencana tata ruang wilayah yang dikeluarkan pada tahun 1965.
Di dalamnya telah diatur bahwa pengembangan kota hanya dilakukan ke
arah timur dan barat, mengurangi tekanan pembangunan di utara, dan
membatasi pembangunan di selatan.
Dalam RTRW 1965, pengembangan kawasan di Jakarta Selatan seharusnya
dibatasi karena wilayah tersebut ditetapkan sebagai daerah resapan air.
Namun, pada tahun 1983, areal terbangun di Jakarta Selatan masih 26
persen dari luas total. Dua puluh tahun berikutnya, kawasan terbangun
meningkat menjadi 72 persen. Persentase ini lebih besar dibandingkan
dengan proporsi daerah terbangun di Jakarta Timur.
Kemang adalah salah satu kawasan di Jakarta Selatan yang mengalami pembangunan pesat tetapi tak sesuai peruntukan.
Dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 2005 (1985-2005), kawasan yang
menjadi bagian daerah aliran Sungai Krukut ini ditetapkan sebagai
kawasan permukiman dengan pengembangan terbatas karena fungsinya sebagai
daerah resapan air. Kenyataannya, saat ini Kemang dikenal sebagai
kawasan komersial yang dipadati kafe, restoran, dan hotel.
Sebelum tergenangnya Kemang pada Sabtu kemarin, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sudah beberapa kali menyatakan Pemerintah Provinsi DKI sudah berupaya ingin mengembalikan Kemang menjadi daerah resapan air.
Cara yang dilakukan adalah dengan menawarkan para pemilik hunian di
sejumlah lokasi untuk menjual tanahnya kepada pemerintah provinsi.
Pemprov DKI ingin membangun banyak rumah pompa di kawasan itu.
"Kalau ada yang mau jual, kami bebasin supaya balik lagi ke
zaman dulu lembah ini kalau hujan air masuk. Kalau kemarau tidak ada
air, ini bisa jadi taman supaya orang bisa main," kata Ahok di Balai
Kota, Kamis (21/4/2016).
Menurut Ahok, hunian yang ingin dibeli adalah hunian yang sebenarnya
berdiri di atas saluran air. Saat ini, kata dia, banyak rumah di kawasan
Kemang yang berada di atas saluran air.
Ahok menilai, keberadaan rumah-rumah warga di atas saluran air
membuat penyempitan terhadap lebar saluran, dari sebelumnya mencapai 20
meter, menjadi tinggal 3 meter.
"Coba aja lihat Kemang sekarang, banyak sekali rumah orang itu kalau air lagi pasang, sungai kecil itu nempel ke dinding orang," ujar dia di Balai Kota, Senin (22/8/2016).
Ahok mengaku tidak tahu persis kapan situasi itu mulai terjadi. Yang
pasti, kata dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalami kesulitan
mengembalikan saluran air seperti semula. Sebab, berbeda dengan
permukiman di bantaran Ciliwung, semua rumah di Kemang yang berada di
atas saluran air adalah rumah yang bersertifikat hak milik.
Menurut Ahok, Pemprov DKI sebenarnya sudah menawarkan warga untuk
menjual rumah beserta tanahnya dengan harga pasaran. Namun, ia menyebut
para pemilik menolaknya.
"Mereka enggak mau jual. Sebagian jawabnya apa? Ah, setahun sekali
ini kok, Pak. Kalau bilang cuma setahun sekali enggak banjir, ya jangan
teriak dong," ujar Ahok.
Sumber: kompas.com