SAUDI PAPARKAN TARGET EKONOMI TANPA KETERGANTUNGAN MINYAK
![]() |
Kecanduan Saudi terhadap minyak yang merupakan penyumbang terbesar pemasukan negara malah menghambat perekonomian mereka mundur. (Reuters/Saudi Press Agency) |
Jakarta,
Pemerintah Arab Saudi telah bersiap meningkatkan
perekonomian mereka tanpa ketergantungan dari sektor minyak. Menurut
Saudi, ketergantungan mereka terhadap hasil minyak telah membahayakan
perekonomian negara.
Seperti dikutip dari CNN Money, Senin (25/4), wakil putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menyampaikan "visi Arab Saudi untuk 2030" yang menargetkan negara itu menjadi satu dari 15 negara dengan perekonomian terbesar dunia.
Seperti dikutip dari CNN Money, Senin (25/4), wakil putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menyampaikan "visi Arab Saudi untuk 2030" yang menargetkan negara itu menjadi satu dari 15 negara dengan perekonomian terbesar dunia.
|
Menurut Mohammed, kekayaan minyak Saudi yang merupakan penyumbang
terbesar pemasukan negara malah membuat perekonomian mereka mundur.
Mohammed bahkan menyebut ketergantungan Saudi terhadap minyak sebagai
"kecanduan."
"Kami memiliki kecanduan di kerajaan Arab Saudi dan itu berbahaya. Hal ini yang menghambat perkembangan pada banyak sektor dalam beberapa tahun terakhir," kata Mohammed dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Arabiya.
Di bawah rencana ini, Saudi akan meningkatkan pemasukan di sektor non-minyak hingga enam kali lipat menjadi US$266 miliar pada 2030, menjual sebagian saham perusahaan minyak nasional Aramco, dan menciptakan dana publik sebesar US$1,9 triliun untuk investasi di dalam dan luar negeri.
Minyak telah menyumbang 87 persen pemasukan bagi Saudi dan jatuhnya harga minyak mentah sejak 2014 telah membuat perekonomian negara itu sedikit terpuruk. Saudi mulai memotong subsidi dan meminjam miliaran dolar untuk menyeimbangkan anggaran mereka.
Minyak Arab Saudi adalah salah satu yang termurah di dunia, dengan harga produksi hanya US$10 per barel. Namun negara itu perlu menjualnya dengan harga US$86 per barel, atau dua kali lipat harga minyak saat ini, agar anggarannya seimbang, berdasarkan estimasi IMF.
IMF juga memperkirakan pertumbuhan GDP Saudi akan melambat menjadi 1,2 persen di tahun 2016, dibanding 3,4 persen tahun lalu. IMF memperingatkan, jika Saudi tidak melakukan perubahan besar maka negara itu akan kekurangan uang tunai dalam waktu kurang dari lima tahun.
Dalam visi tahun 2030, Saudi menargetkan peran yang lebih besar dari sektor swasta agar menyumbang setidaknya 65 persen bagi perekonomian negara. Sebelumnya, swasta hanya memiliki porsi 40 persen.
Mayoritas warga Saudi, sekitar 70 persennya, bekerja sebagai pegawai pemerintah dengan gaji 1,7 kali lipat lebih besar ketimbang pekerja di sektor swasta, berdasarkan data survei pasar kerja Saudi. Sementara sektor swasta di negara itu didominasi oleh pekerja asing yang tidak mendapatkan penghasilan serta jaminan kerja yang sama dengan pekerja asli Saudi.
Dalam visinya, pemerintah Saudi ingin mendorong warga asli untuk bekerja di perusahaan swasta. Saudi akan menggunakan dana kekayaan negara untuk membantu pengembangan sektor swasta, di antaranya yang bergerak di industri manufaktur, pariwisata, dan pertambangan.
Kerajaan juga berencana membeli lebih banyak senjata dari produsen dalam negeri. Selama ini, 50 persen persenjataan Saudi dibeli dari luar negeri.
Diharapkan strategi ini bisa mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda. Setidaknya setengah dari populasi Saudi berusia di bawah 25 tahun dan sektor publik tidak bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi mereka. Berdasarkan visi ini, angka pengangguran di Saudi akan menurun hingga 7 persen pada 2030 dari sebelumnya 11 persen.
Arab Saudi sebelumnya telah mengumumkan langkah penghematan, di antaranya mengurangi subsidi air dan energi serta memangkas program beasiswa asing.
Dalam rencana baru ini, Saudi juga akan menggenjot sektor pariwisata. Saudi menargetkan 30 juta jemaah haji dan umroh pada 2030, meningkat dari jumlah saat ini yaitu 8 juta jemaah.
"Kami memiliki kecanduan di kerajaan Arab Saudi dan itu berbahaya. Hal ini yang menghambat perkembangan pada banyak sektor dalam beberapa tahun terakhir," kata Mohammed dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Arabiya.
Di bawah rencana ini, Saudi akan meningkatkan pemasukan di sektor non-minyak hingga enam kali lipat menjadi US$266 miliar pada 2030, menjual sebagian saham perusahaan minyak nasional Aramco, dan menciptakan dana publik sebesar US$1,9 triliun untuk investasi di dalam dan luar negeri.
Minyak telah menyumbang 87 persen pemasukan bagi Saudi dan jatuhnya harga minyak mentah sejak 2014 telah membuat perekonomian negara itu sedikit terpuruk. Saudi mulai memotong subsidi dan meminjam miliaran dolar untuk menyeimbangkan anggaran mereka.
Minyak Arab Saudi adalah salah satu yang termurah di dunia, dengan harga produksi hanya US$10 per barel. Namun negara itu perlu menjualnya dengan harga US$86 per barel, atau dua kali lipat harga minyak saat ini, agar anggarannya seimbang, berdasarkan estimasi IMF.
IMF juga memperkirakan pertumbuhan GDP Saudi akan melambat menjadi 1,2 persen di tahun 2016, dibanding 3,4 persen tahun lalu. IMF memperingatkan, jika Saudi tidak melakukan perubahan besar maka negara itu akan kekurangan uang tunai dalam waktu kurang dari lima tahun.
Dalam visi tahun 2030, Saudi menargetkan peran yang lebih besar dari sektor swasta agar menyumbang setidaknya 65 persen bagi perekonomian negara. Sebelumnya, swasta hanya memiliki porsi 40 persen.
Mayoritas warga Saudi, sekitar 70 persennya, bekerja sebagai pegawai pemerintah dengan gaji 1,7 kali lipat lebih besar ketimbang pekerja di sektor swasta, berdasarkan data survei pasar kerja Saudi. Sementara sektor swasta di negara itu didominasi oleh pekerja asing yang tidak mendapatkan penghasilan serta jaminan kerja yang sama dengan pekerja asli Saudi.
Dalam visinya, pemerintah Saudi ingin mendorong warga asli untuk bekerja di perusahaan swasta. Saudi akan menggunakan dana kekayaan negara untuk membantu pengembangan sektor swasta, di antaranya yang bergerak di industri manufaktur, pariwisata, dan pertambangan.
Kerajaan juga berencana membeli lebih banyak senjata dari produsen dalam negeri. Selama ini, 50 persen persenjataan Saudi dibeli dari luar negeri.
Diharapkan strategi ini bisa mengatasi angka pengangguran di kalangan pemuda. Setidaknya setengah dari populasi Saudi berusia di bawah 25 tahun dan sektor publik tidak bisa memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi mereka. Berdasarkan visi ini, angka pengangguran di Saudi akan menurun hingga 7 persen pada 2030 dari sebelumnya 11 persen.
Arab Saudi sebelumnya telah mengumumkan langkah penghematan, di antaranya mengurangi subsidi air dan energi serta memangkas program beasiswa asing.
Dalam rencana baru ini, Saudi juga akan menggenjot sektor pariwisata. Saudi menargetkan 30 juta jemaah haji dan umroh pada 2030, meningkat dari jumlah saat ini yaitu 8 juta jemaah.
Sumber: cnnindnesia.com