PERANCIS MENANG TENDER KAPAL SELAM AUSTRALIA SENILAI Rp. 508 T
![]() |
Ilustrasi kapal selam Australia (Reuters/Australian Defence Force/Handout) |
Jakarta,
Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull
memaparkan bahwa Perancis memenangi kesepakatan proyek pembangunan
armada 12 kapal selam baru untuk Australia senilai AUS$50 miliar, atau
sekitar Rp508 triliun. Dalam persaingan memperebutkan salah satu kontrak
terbesar di sektor pertahanan ini, Perancis berhasil mengalahkan Jepang
dan Jerman.
Proyek besar ini akan dikerjakan oleh kontraktor angkatan laut milik Perancis, DCNS Grup. Kemenangan ini meningkatkan pamor bagi industri pertahanan Perancis dan merupakan pukulan telak bagi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk mengembangkan industri ekspor pertahanannya.
Proyek besar ini akan dikerjakan oleh kontraktor angkatan laut milik Perancis, DCNS Grup. Kemenangan ini meningkatkan pamor bagi industri pertahanan Perancis dan merupakan pukulan telak bagi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk mengembangkan industri ekspor pertahanannya.
"Rekomendasi dari proses evaluasi kompetitif dari panel kami, yang
terdiri dari departemen pertahanan dan para pakar yang mengawasi, sangat
jelas bahwa tawaran Perancis menunjukkan kemampuan terbaik yang dapat
memenuhi kebutuhan unik Australia," kata Turnbull di Adelaide, Selasa
(26/4).
Australia tengah menghemat anggaran pertahanan sembari berusaha melindungi kepentingan strategis dan perdagangan di Asia-Pasifik, di tengah upaya Amerika Serikat dan sekutunya melawan China.
Dua perusahaan besar Jepang, Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries sebelumnya diperkirakan akan memenangi kontrak kapal selam Australia. Namun, pengalaman kedua perusahaan ini di sektor pertahanan global dianggap kurang.
Selain itu, kedua perusahaan ini juga enggan membangun kapal selam di Australia. Hal ini membuat DCNS dari Perancis dan ThyssenKrupp AG dari Jerman menjadi kandidat yang kuat untuk memenangi kontrak.
Selain nilai kontrak yang besar, keputusan Australia membangun selusin kapal selam diperkirakan memiliki implikasi politik baik di dalam maupun luar negeri.
Para pengamat industri sebelumnya memperkirakan bahwa keputusan pemenang kontrak ini akan diumumkan pada akhir tahun ini. Namun, dengan pemilu di Australia yang akan digelar pada 2 Juli mendatang, maka pengumuman pemenang dipercepat.
Kontrak ini akan berdampak terciptanya ribuan lapangan pekerjaan di industri perkapalan di Australia Selatan. Hal ini tentunya akan memberikan dampak penting bagi dukungan terhadap pemerintah pada pemilu mendatang.
"Proyek kapal selam ini akan membuat pekerja Australia membangun kapal selam Australia dengan baja Australia," kata Turnbull.
Dalam perebutan kontrak, DCNS menawarkan kapal selam sebesar 5.000 ton dengan kekuatan diesel-listrik.
Sementara, Jepang menawarkan membangun kapal selam sebesar 4.000 ton versi Soryu. Jika berhasil, penawaran ini diperkirakan akan mempererat hubungan pertahanan kedua negara, namun akan meregangkan hubungan dengan China, mitra dagang utama Australia.
Australia tengah menghemat anggaran pertahanan sembari berusaha melindungi kepentingan strategis dan perdagangan di Asia-Pasifik, di tengah upaya Amerika Serikat dan sekutunya melawan China.
Dua perusahaan besar Jepang, Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries sebelumnya diperkirakan akan memenangi kontrak kapal selam Australia. Namun, pengalaman kedua perusahaan ini di sektor pertahanan global dianggap kurang.
Selain itu, kedua perusahaan ini juga enggan membangun kapal selam di Australia. Hal ini membuat DCNS dari Perancis dan ThyssenKrupp AG dari Jerman menjadi kandidat yang kuat untuk memenangi kontrak.
Selain nilai kontrak yang besar, keputusan Australia membangun selusin kapal selam diperkirakan memiliki implikasi politik baik di dalam maupun luar negeri.
Para pengamat industri sebelumnya memperkirakan bahwa keputusan pemenang kontrak ini akan diumumkan pada akhir tahun ini. Namun, dengan pemilu di Australia yang akan digelar pada 2 Juli mendatang, maka pengumuman pemenang dipercepat.
Kontrak ini akan berdampak terciptanya ribuan lapangan pekerjaan di industri perkapalan di Australia Selatan. Hal ini tentunya akan memberikan dampak penting bagi dukungan terhadap pemerintah pada pemilu mendatang.
"Proyek kapal selam ini akan membuat pekerja Australia membangun kapal selam Australia dengan baja Australia," kata Turnbull.
Dalam perebutan kontrak, DCNS menawarkan kapal selam sebesar 5.000 ton dengan kekuatan diesel-listrik.
Sementara, Jepang menawarkan membangun kapal selam sebesar 4.000 ton versi Soryu. Jika berhasil, penawaran ini diperkirakan akan mempererat hubungan pertahanan kedua negara, namun akan meregangkan hubungan dengan China, mitra dagang utama Australia.
Sumber: cnnindonesia.com