Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PERANCIS DIRAGUKAN JADI TUAN RUMAH PIALA EROPA

Kesiapan Perancis menyambut Piala Eropa menjadi dipertanyakan usai terjadinya aksi teror pada Jumat lalu. (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta -- Status Perancis sebagai tuan rumah Piala Eropa 2016, berada dalam tanda tanya setelah aksi terorisme yang melanda jantung ibukota Perancis, Paris, Jumat (13/11).

Bahkan, salah satu legenda sepak bola Perancis, Just Fontaine, menganggap negaranya itu harus melepaskan status mereka sebagai tuan rumah, lantaran tak dapat menjamin keamanan para pemain dan suporter selama turnamen empat tahunan itu berlangsung.

"Setiap negara lain dapat menyelenggarakan turnamen itu, tapi kita tidak dapat melakukannya. Saya pikir Perancis harus melepaskan status tuan rumah untuk turnamen itu," ujar Fontaine kepada media Jerman, Die Welt.

"Saya sangat takut insiden Jumat Hitam ini dapat terulang. Saya pikir kita tak dapat menjamin keamanan yang dibutuhkan untuk melangsungkan turnemen besar itu."

Fontaine yang hingga saat ini memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu pelaksanaan Piala Dunia (13 gol), juga tak yakin stadion kebanggaan Perancis, Stade de France, masih akan menjadi daya tarik pecinta sepak bola usai serangan teroris.

"Ini semua jelas terlalu berbahaya. Apakah Anda benar-benar berpikir di masa mendatang orang-orang akan tetap ke Stade de France?" ujar Fontaine bertanya.

Proses pengundian Piala Eropa 2016 sendiri akan dilangsungkan di Paris, 12 Desember mendatang. Pihak penyelenggara menegaskan Perancis akan melakukan segala cara untuk memastikan keamanan dan kelangsungan Piala Eropa, musim panas tahun depan tersebut.

"Bertanya-tanya tentang pembatalan Piala Eropa 2016 layaknya menuruti kemauan para teroris," ujar Ketua Penyelenggara Piala Eropa 2016, Jacques Lambert, kepada RTL.

"Kami akan melakukan segala tindakan yang dibutuhkan agar kelangsungan Piala Eropa 2016 dapat berlangsung dengan kondisi aman."

Namun, Lambert menyatakan dirinya tak akan mengungkapkan tindakan pengamanan yang dilakukan pihaknya, lantaran ingin memastikan rahasia keamanan tetap terjaga.

Lambert sendiri mengakui ancaman terbesar justru tak akan terjadi di dalam area stadion melainkan di jalanan biasa, di saat para suporter sering berkumpul.




Sumber: cnnindonesia.com